Can I Play with Madness?
Ditulis dalam Sok Serius
Work Hard, Party Hard part II
Well, forget about “lost my mind, my money and my life”. I still believe that we deserve to get what we give. After a long hard road out of hell doing my work, working on my writing and posing and of course everything else, last night i had a lovely party. Yeah, work hard, party hard. Thanks for the drinks, Amsterdam girl ![]()
Ditulis dalam Sok Serius
Work Hard, Party Hard
I lost my mind, I lost my money, I lost my life…but I still have my attitudes and I enjoy it. Halleluja ![]()
Ditulis dalam Sok Serius
Being a Model
Heidi Klum, Gisele Bundchen, Laetitia Casta, Kate Moss, they are famous supermodels. But where were they when they were not famous yet? Some might say they were born famous, even when their parents hadn’t even met each other before. What a compliment J. Be seriously!!!
Okay. You know what? How many times have they been painted? Countless!!! Who said that? They have been filmed, pictured, paparazzied many times, but nobody really knows whether they have ever painted when they were college girls. I don’t even know whether they have been college girlsJ. So what?
So what? It’s me. I was painted last night for the first time in my life. I can proudly say “I’m a model.” At least, an amateur model. But who cares? No matter we are famous or not, as long as we act like a professional, we are professional.
I love Holland. It has given me many new, challenging, exciting, and van tastikk experiences. Thanks friends, for giving and sharing everything J.
Ditulis dalam Berbagi
January 2008 for Me
Hari ini Januari 2008 berakhir. Januari 2009, 2010, 2011, atau bahkan 2012, 2013, dan seterusnya mungkin masih ada. Tapi hanya Tuhan yang tahu apakah saya bisa berada di Januari-januari berikutnya atau nggak. Tapi itu nggak penting, sebab kata Dorman Borisman di film 9 Naga, “masa depan itu nggak perlu dipikirin karena belom kejadian, kalau masa lalu iya.”
Seperti di tulisan saya sebelumnya (kayanya saya setuju dengan bang Dorman, sebab saya senang memikirkan masa lalu :)), Januari 2008 ini adalah masa terpenting dalam hidup saya di mana banyak kejadian terjadi yang mungkin akan mempengaruhi masa depan saya (bukan berarti sekarang saya mengkontradiksikan pendapat saya tentang masa lalu dan masa depan). Yang pasti, yang sudah saya lakukan di beberapa bulan terakhir, saat ini, dan beberapa hari, minggu, bahkan bulan dan mungkin beberapa tahun ke depan ada kaitannya, dipengaruhi dan akan dipengaruhi oleh kehidupan saya di Januari 2008.
Kembali saya menggembar-gemborkan slogan “Life begins at 30″ saya. Bukan hanya terdengar seksi bagi saya, namun slogan ini adalah pancaran hidup saya saat ini (saya masih setia dengan pendapatnya bang Dorman).
Kalau mau ditinjau ulang, ada beberapa perjalanan yang saya buat di bulan ini, momen-momen penting di keluarga saya, kewajiban-kewajiban saya di Belanda, pertemanan dan pertidaktemanan, keharuan, tangisan, tawa, celaan, datangnya rezeki, kesempatan dan peluang baru, dan banyak hal lagi yang kalau mau saya tuliskan semuanya, harus saya ingat cukup lama (saya nggak mau mengingat-ingat itu semua karena sekarang saya cukup ngantuk untuk membuat `malas` menjadi alasan saya :)).
Yang pasti, di bulan ini juga pengalaman hidup saya bertambah panjang, lebar, dan luas. Di balik pandangan sempitnya dunia dengan mengenal orang-orang yang ternyata adalah teman-teman saya di masa lalu, ternyata dunia ini tidak bisa dibilang sempit dengan hadirnya orang-orang yang baru dalam hidup saya. Orang-orang baru yang juga akhirnya membuat Januari 2008 ini menjadi sangat penting bagi saya, sambil tentu saja saya tetap menganggap orang-orang lama dalam hidup saya penting, dan bisa jadi terpenting dalam hidup saya. Terima kasih teman-teman, atas jasa kalian yang telah membuat Januari 2008 menjadi masa terpenting dalam hidup saya :).
Ditulis dalam Berbagi
Life begins at 30
Kata banyak orang, hidup dimulai di umur 40 tahun. Lalu di mana kehidupan kita sebelum berumur 40 tahun?
Sebenarnya apa sih arti hidup itu? Hmmm…pertanyaan yang mudah, tapi susah dicari jawabannya. Sangat klise.
Hidup adalah perjuangan, dan perjuangan memerlukan harapan agar tetap semangat. Harapan. Kata itu mengingatkan kita pada sebuah tanjung di ujung selatan benua Afrika. Tapi harapan juga menyiratkan arti sebuah asa yang hidup di dalam hati kita. Sebab, menurut orang bijak, tanpa harapan manusia tidak terlihat hidup.
Kita, yang masih mengaku sebagai manusia, tentu saja memiliki banyak harapan. Ada yang sederhana, ada pula yang kompleks dan rumit. Semuanya tergantung pikiran dan skala prioritasnya. Seorang pejuang di Irak tentu berharap suatu saat negerinya akan damai, tidak ada lagi perang. Seorang SBY pasti berharap agar dirinya terus dalam keadaan sehat, agar ia dapat menjalankan tugasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan serta membawa Indonesia menuju era baru yang gilang-gemilang (untuk yang satu ini—saya rasa—kita pun tentu mempunyai harapan yang sama dengan SBY).
Lalu bagaimana dengan seorang guru, seorang Romeo, seorang mahasiswa, seorang Michael Jackson, dan seorang reformis? Well, jawabannya pasti beragam. Seorang guru pasti berharap agar gambaran Oemar Bakri tidak hanya bersepeda kumbang melainkan bermobil sedan. Seorang mahasiswa yang malas sekalipun masih berharap agar IPK-nya melebihi 2, 75 supaya lulus seleksi calon pegawai. Seorang pengusaha tentu berharap agar kucuran dana dari bank dapat mengalir dengan mudah dalam jumlah besar (syukur-syukur kewajiban membayarnya dibebankan pada rakyat-seperti dulu lagi). Seorang Michael Jackson mungkin berharap agar hidungnya tetap mancung dan kulitnya tetap putih, lalu seorang reformis berharap agar ide-idenya dapat diterima dan dijalankan oleh masyarakat (mungkin saja nanti diangkat jadi pejabat). Akhirnya, seorang Romeo tentu mengharapkan cintanya yang tulus dan abadi mendapatkan balasan dari Juliet.
Harapan setiap orang memang tidak sama, tergantung “hidupnya” jiwa dan hatinya masing-masing. Semakin “hidup” jiwa seseorang, semakin kompleks dan melebar harapan tersebut. Tapi tidak usahlah mempermasalahkan sebesar apa harapan itu. Harapan yang sederhana bukan berarti jiwa yang tidak hidup, melainkan fokus dan konsentrasinya memang hanya mengarah pada satu hal, baik pada saat itu maupun pada saat sesudahnya.
Bagaimana dengan saya? Bayangan seperti apa sih yang saya pikirkan saat ini tentang kehidupan saya? Saya, yang mengaku manusia sederhana menginginkan hidup nyaman dan bahagia. Itu yang paling jelas dan sekaligus juga abstrak. Kenapa jelas? Karena itu adalah impian saya dari dulu. Kenapa abstrak? Karena saya nggak tahu apakah harapan saya sudah bergerak ke arah sana. L
Lalu, jika ada yang bertanya lagi kepada saya “apa yang ingin kamu lakukan setiap hari?” Saya akan menjawab “yang ingin saya lakukan setiap hari adalah apa yang saya sukai dan apa yang saya anggap baik dan terbaik, baik dan terbaik buat saya dan baik dan terbaik buat orang-orang yang saya cintai. Saya ingin membuat diri saya nyaman dan sebaliknya, saya juga ingin orang-orang yang saya cintai merasa nyaman dengan diri saya dan apa yang saya lakukan”. Masih kurang sederhana?
Ok. Sekarang berlanjut ke pertanyaan berikut: “Apa yang ingin kamu rasakan setiap hari?” Sekali lagi harus saya tegaskan kalau saya pada dasarnya orang yang sederhana, walaupun saya tahu, kadang pikiran saya tidak sederhana. Saya ingin setiap hari bahagia dan saya ingin membagi kebahagiaan saya itu dengan orang-orang yang saya cintai.
Hmmm…kadang terlihat sederhana, kadang nggak. Kalau gitu kita berlanjut ke pertanyaan terakhir: “Apa yang menurutmu sangat penting, yang sangat sangat sangat ingin kamu capai kelak?” Saya mungkin mempunyai banyak cita-cita, mulai dari menjadi kolumnis sepakbola, dan acara jalan-jalan dan makanan, atau kadang saya ingin menjadi peneliti tentang Indonesia, atau penulis sejarah, atau bahkan cukup menjadi dosen sejarah. Tapi saya bukan orang yang ambisius, semua itu akan menjadi nggak banyak gunanya kalau saya nggak bahagia dan merasa nyaman. Saya bukan pengejar harta. Harta nggak banyak berguna buat memperoleh kebahagiaan, walaupun menurut saya harta bisa memberikan jalan yang lebih mudah dalam memperoleh kebahagiaan. Saya nggak mau munafik dalam hal ini. Saya masih membutuhkan harta, dan yang jelas, saya akan berjuang demi keluarga saya kelak agar mereka bisa hidup berkecukupan secara materi. Yang jelas, saya akan mengusahakan kebahagiaan dan kenyamanan buat keluarga saya dan juga diri saya sendiri.
“Jadi itu arti hidup bagi kamu? Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?”
Seperti yang sudah saya bilang di atas, mencari jawaban dari arti hidup itu nggak mudah. Saya cuma berusaha memberikan gambaran tentang saya dan apa yang saya harapkan saat ini.
“Kenapa baru sekarang kamu memberikan gambaran itu?”
Karena baru sekarang ada orang yang bertanya kepada saya tentang hidup saya, dan karena saya tidak setuju kalau hidup dimulai di usia 40. Menurut saya, hidup dimulai ketika kita mempunyai harapan, besar atau kecil nggak masalah, yang penting ketika kita mulai berharap keinginan kita terkabul, kita sudah memulai hidup karena kita akan mengusahakan tercapainya harapan itu. Menurut saya lagi, hidup itu dimulai di usia 30 karena di usia saya yang 30 ini (22 Januari 2008), saya mempunyai harapan-harapan yang sederhana seperti yang saya jelaskan di atas. Hidup bahagia dan merasa nyaman. Sederhana kan? J
Ditulis dalam Berbagi
Misery
I`m so alone. Do you think I`m better off alone? After all that we`ve been through. Talk to me. What will I do without you? Will misery be my friend for the next seven months or even forever???
Ditulis dalam Berbagi
Lipsius, Cinta, dan Seks (Yes, Sex!!!)
Lipsius Building di Cleveringaplaats, Leiden memang asyik. Ada banyak orang belajar, makan, minum, atau sekedar ngobrol. Saya bisa dibilang sering ke sana juga. Kata orang, kopi di sana paling murah dibanding tempat-tempat lain di Leiden. Benarkah begitu? Saya nggak tahu, karena saya nggak ngopi. Saya ngeteh, teman-teman.
Tapi, bukan itu yang penting buat saya. Akhir pekan kemarin seperti yang saya tulis sebelumnya (tanggal 4 Januari), memang asyik. Ada cerita, ada keberanian, ada ketegaran, ada keputusan besar, ada penantian berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun, ada sandiwara juga, dan yang penting…ada cinta J.
Mungkin memang begitu kalau laki-laki dan perempuan bertemu. Mungkin, siapa yang tahu. Di situlah maksudnya seks. Ada pertemuan manusia berjenis kelamin yang berbeda yang punya maksud sama: cinta (harus saya garis bawahi) Alangkah indahnya. Dan sekali lagi, saya mengetahuinya J.
Terima kasih, teman-teman, karena saya tahu.
Dan mengulang tulisan saya sebelumnya: Cinta memang indah, nggak peduli orang lain merasakan hal yang sama atau nggak dengan kita, yang penting, kalau kita punya perasaan cinta, maka ungkapkanlah…Karena cinta untuk diungkapkan dan dibagi dengan orang lain.Senangnya…
Karena cinta memang indah J.
Ditulis dalam Berbagi
Cinta, cinta, dan cinta
Senangnya hari ini menyaksikan anak-anak manusia bercinta-cintaan. Lebih senang lagi karena saya terlibat di dalamnya. Cinta memang indah, nggak peduli orang lain merasakan hal yang sama atau nggak dengan kita, yang penting, kalau kita punya perasaan cinta, maka ungkapkanlah…Karena cinta untuk diungkapkan dan dibagi dengan orang lain.
Senangnya…
Karena cinta memang indah :)
Ditulis dalam Berbagi
Tahun Baru
Kenapa tahun baru penting? Kenapa juga tahun baru nggak penting? Beberapa kali saya ikut dalam acara perayaan tahun baru. Beberapa kali pula saya nggak ikut dalam acara perayaan tahun baru. Lalu, apakah tahun baru hanya sebuah perayaan saja? Ataukah tahun baru punya makna yang lain?
Banyak orang menganggap tahun baru penting. Banyak juga yang menganggap acara perayaan tahun barulah yang lebih penting. Sekarang giliran saya yang mau berkomentar. Bolehkah?
Bagi saya, tahun baru tidaklah begitu penting. Bagi saya, tahun baru sama seperti hari-hari yang lain. Kalau begitu, hari-hari yang lain tidak penting juga? Bukan begitu. Hari-hari yang lain bisa menjadi penting jika itu menyangkut peristiwa-peristiwa besar dalam hidup saya, semisal hari pertama saya menginjak masa akil balig (walaupun saya lupa kapan J), atau 11 Februari 2007 ketika saya untuk yang pertama kali pergi ke Belanda (mudah-mudahan bukan yang terakhir J). Kalau begitu tahun baru bisa menjadi penting? Jelas!!! (walaupun sampai sekarang nggak pernah ada peristiwa besar dalam hidup saya yang terjadi di tahun baru J).
Yang pasti, saya senang acara perayaan tahun baru. Hari ini adalah hari pertama saya merayakan tahun baru di luar Indonesia (hmmm…sebenernya nggak bisa dibilang perayaan juga sih karena saya nggak tahu acara perayaan tahun baru yang baik dan benar J). Sayangnya, keriaan tahun baru di Leiden masih kalah seru dibanding dengan keriaan di kampung saya dulu waktu di Bekasi, Bogor, Bandung, Sukabumi, atau Serang. Hehehe.
Selamat tahun baru 2008. Moga tahun ini membawa kebahagiaan dan senyuman buat kita semua J
Ditulis dalam Berbagi
Is Censorship Necessary in the Modern World?
What is censorship? Why is it so closely related to the concepts of freedom of speech and freedom of expression? Stroll argues that censorship means an act in which one person (or a group of persons) imposes his views upon another.[1] Censorship is not a new matter. In 19th century France, there was censorship of caricatures where pictures were feared by the authorities far more than words.[2] In fact, censorship of freedom of speech appeared in 25 A.D. Rome in the case of Sejanus who forced Cremutius Cordus to commit suicide by bringing him to trial for his history of the achievements of Augustus, in which he had praised Cassius and Brutus.[3] What about censorship in the modern world? Is it necessary? This article tries to answer the necessity of censorship in the modern world.
It is not easy to determine whether censorship is necessary or not. We have to be able to distinguish the contexts behind censorship. In moral censorship, for instance that of pornography, censorship is necessary. Pornography is considered as books or films that show sexual activity in order to cause sexual excitement. In many Muslim countries, pornography is prohibited because it is incompatible with Islamic values. Therefore, censorship in this context is necessary.
In another context, namely military censorship, I argue that censorship is necessary as well. In this context, the governments have the authority to keep military intelligence away from the enemy. Military censorship may restrict information to the public which endangers the countries` security. However, in the case of military censorship in Germany in 1914, Randall argues that the censorship was the worst kind of censorship, for it was military censorship in the sense of being administrated by military authorities, but it extended far beyond the military sphere and covered every branch of national life. The case shows us that on the pretext of preventing the leakage of military information, censorship was established and had been constantly employed for the suppression of opinion and the stifling of political criticism.[4]
Nevertheless, I argue that in other contexts, censorship is not necessary. In the context of religious censorship where the government of a country forces limitations on a certain less dominant sect of a religion, censorship is not necessary. It contradicts human rights. The 2005 Ahmadiyah case in Indonesia, when the Council of Indonesian Ulama (the MUI) issued a fatwa (an Islamic decree) emphasizing the heresy of Ahmadiyah, shows us that religious censorship is not necessary. The fatwa triggered negative sentiments against Ahmadiyah, and religious extremist groups used the fatwa to validate their attacks on members of Ahmadiyah.
Furthermore, censorship of educational sources is absolutely unnecessary. There was even censorship of books in the U.S. which is always considered as one of the most democratic countries in the world. One of the most famous examples of this kind of censorship is the banning of Fahrenheit 451. This book is about censorship and those who ban books for fear of creating too much individualism and independent thought. In late 1998, this book was removed from the required reading list of the West Marion High School in Foxworth, Mississippi. A parent complained of the use of the words “God damn” in the book. Subsequently, the superintendent instructed the teacher to remove the book from the required reading list.[5]
The above cases show us that to determine whether censorship is necessary or not is not an easy task. Therefore, I argue to some extent, that censorship is necessary for certain contexts and unnecessary for other contexts.
[1] Stroll, Avrum. “Censorship, Models and Self-Government” in Journal of Value Inquiry, 1:2, 1967, p. 91.
[2] Goldstein, Robert Justin. “Censorship of Caricature in France, 1815-1914”, in French History, 3:1, 1989, p. 71.
[3] Geer, Russel M. “One Ancient Attempt at Censorship”, in Classical Weekly, Volume 23, No. 18, p. 144.
[4] Randall, James G. “Germany’s Censorship and News Control”, in North American Review, 208, 1918, p. 51.
[5] http://www.banned-books.com/bblista-i.html
Ditulis dalam Sok Serius
My Beloved Son
Pagi-pagi sekali saya terbangun di Sabtu, 23 Desember 2006 di rumah teman saya di Pandeglang. Kebiasaan saya mematikan telepon selular sewaktu tidur ternyata tidak selalu menguntungkan. Kebiasaan yang semula saya tujukan agar saya tidak terganggu sewaktu tidur ternyata kali itu membuat saya menyesal. Pesan singkat di inbox berasal dari istri saya, memberitahu bahwa ia sudah berada di Rumah Sakit Assyifa Sukabumi dari jam 3 dini hari. Rupanya ia sudah memasuki masa-masa akan segera melahirkan. Bergegaslah saya pamit ke tuan rumah dan berangkat menuju Sukabumi. Bukan main gelisahnya saya di perjalanan memikirkan nasib istri saya yang akan segera melahirkan. Campur aduk antara perasaan senang dan was-was mewarnai pikiran saya waktu itu. Keinginan kuat saya saat itu adalah bisa hadir dan mendampingi istri saya melahirkan. Seandainya saya tidak mematikan telepon itu, mungkin saya…tapi…sudahlah.
Kurang lebih di daerah Cicurug, Sukabumi, saya mendapat pesan singkat lagi. Ternyata istri saya sudah melahirkan. Hmmm…leganya saya membaca pesan itu, walaupun jelas ada perasaan kecewa dan menyesal tidak bisa mendampingi istri saya di saat-saat paling mengharukan dan menegangkan untuk seorang perempuan yang baru pertama kali melahirkan.
Nuruddin Zanky Pribadi, anak pertama saya telah lahir dengan selamat. Betapa bahagianya saya saat itu. Kebahagiaan itu menjadi bertambah ketika mengingat istri saya pernah keguguran di Mei 2005 ketika usia pernikahan kami baru saja menginjak bulan ketiga. Tak terasa beberapa bulir air turun dari mata saya mengalir sedikit demi sedikit membasahi pipi. Hmmm…inikah rasanya menjadi seorang ayah? You tell me, Son.
Namun, kebahagiaan itu ternyata tidak betah berlama-lama menempel di diri saya. Baru kurang lebih 50 hari saya menikmati masa-masa indah bersama anak dan istri saya, sebuah langkah besar harus saya ambil. Dalam suatu kesempatan, saya harus meninggalkan mereka untuk pergi ke Belanda. Sebuah langkah besar dalam hidup saya yang mengubah banyak hal bukan cuma untuk saya, namun juga untuk mereka.
Masih terbayang dengan jelas bagaimana 11 Februari 2007 menjadi hari besar saya sebagai seorang kepala keluarga yang berusaha mendapatkan jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengurangi peran saya sebagai ayah dan suami dengan meninggalkan mereka untuk jangka waktu 18 bulan. Suatu keputusan yang sangat berat, namun juga suatu keputusan yang bertanggung jawab demi meraih masa depan yang lebih baik untuk keluarga saya (setidaknya merasa bertanggung jawab saya tekankan di sini, kadang hanya untuk mengurangi perasaan bersalah saya meninggalkan mereka). Masih ingat pula bagaimana saya memeluk dan mencium mereka ketika mereka melepas saya di hari itu (Nak, tidurmu di bandara waktu itu membuatku merasa lebih kuat meninggalkanmu. Seandainya, saat itu kau terbangun dan tersenyum padaku, mungkin aku akan sangat bersedih meninggalkanmu, walaupun kenyataannya aku selalu bersedih jika mengingatmu hingga saat ini).
Perjalanan hidup saya di Belanda hingga sekarang banyak diwarnai oleh khayalan-khayalan bagaimana rasanya mengetahui perkembangan anak saya. Bagaimana rasanya melihat anak saya belajar tengkurap, belajar merayap, belajar merangkak, melihat giginya tumbuh, melihatnya belajar berbicara dan mengucapkan sepatah-dua patah kata, atau melihatnya belajar berjalan hanyalah bisa saya khayalkan. Sering saya hanya bisa iri melihat orang di Belanda ini bercengkrama dengan anak-anaknya. Normalkah saya?
Tak terasa saya sudah lebih dari sepuluh bulan berada di Belanda dan tak terasa hari ini usiamu tepat setahun, Nak. Terima kasih telah menjaga ibumu dan membuatnya bisa tersenyum walaupun ditinggalkan oleh ayahmu ini. Aku tahu kamu pasti bisa memahami kepergian ayahmu ini, karena kamu adalah anak yang sangat aku banggakan yang mampu memberikan kebahagiaan untuk ayah dan ibumu. Ceriakanlah hari-hari ibumu dengan tawa dan candamu, dengan tingkah polahmu yang tidak bisa aku rasakan secara langsung, namun bisa kurasakan dari jauh. Terima kasih telah membawa kebahagiaan dibalik kesedihan yang aku harapkan hanya sementara ini. Maafkan ayahmu ini, Nak, yang tidak bisa mendampingimu di masa-masa pertumbuhanmu, di saat-saat perkembanganmu, di saat-saat yang paling berarti dalam hidupmu. Selamat ulang tahun, Nak. Semoga kita bisa cepat bertemu…
Ditulis dalam Berbagi
Perempuan, Ibu, dan Keluarga
Orang boleh bilang abad ini adalah abad perempuan dan keluarga. Sebabnya adalah pada zaman ini perempuan menjadi lakon. Indikasinya dapat dilihat dari kecenderungan sosial dan kependudukan. Perempuan menempati peran sentral dalam proses dan dinamika kemasyarakatan. Salah satu dampak dari dinamika itu adalah perubahan dalam konsepsi dan bentuk keluarga masa depan.
Secara demografi, jumlah penduduk laki-laki dan perempuan selalu seimbang. Keadaan ini mungkin akan bertahan. Hanya kedudukan sosial perempuan yang secara tradisional dianggap alami, mulai ditanyakan orang. Dulu umur menikah perempuan dianggap alami bila batasnya lebih rendah dari umur menikah laki-laki. Apa betul alami kecenderungannya sekarang ? Karena kenyataannya batas umur menikah perempuan makin meningkat. Bahkan makin lama makin mendekati rata-rata batas usia menikah pertama laki-laki. Karena pendidikan, karena partisipasi dalam angkatan kerja, dan karena persamaan hak dan kewajiban dalam keluarga dan masyarakat. Pada abad ini, perkara persamaan hak dan tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki akan semakin terlihat secara nyata.
Secara sosial kedudukan perempuan memang akan makin meningkat, karena itulah cita-cita semua perempuan. Itu pulalah yang menjadi tujuan yang akan diraih oleh perjuangan bangsa-bangsa. Bukan hanya laki-laki yang memilih dan dipilih menjadi wakil rakyat dan pemimpin negara, perempuan pun bisa. Tuntutan itu makin terpenuhi. Bahkan sekarang perempuan mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan atau tidak memanfaatkan secara penuh peluang itu. Hak politik adalah omong kosong kalau belum disertai hak sosial. Hak itu dapat berbentuk kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang sama peluangnya dengan laki-laki dan juga hak memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan dan sesuai dengan minat dan ketrampilan perempuan. Gaji pun harus sama dengan rekan laki-lakinya, asal prestasi dan kemampuan kerja pun setaraf antara keduanya. Undang-undang dan mekanisme perlindungan sudah ada. Sekarang persamaannya diserahkan kepada mekanisme pasar. Kalau masih ada perempuan yang mau dibayar lebih rendah, atau menerima syarat kerja yang berbeda dengan laki-laki, itu urusan perjuangan perempuan yang akan diselesaikan nanti.
Lalu laki-laki atau perempuankah yang lebih unggul? Inilah contoh pertanyaan yang tidak relevan tetapi sering menggoda. Bahkan di banyak negara, orang mencoba mengungkap misteri ini. Lalu ada yang bilang, bukti ilmiah yang paling meyakinkan telah ditemukan. Kadar hormon kelamin dalam darah empu, konon asal kata dari perempuan, dapat mempengaruhi pikiran, omongan, dan kekarnya lengan. Memang bukan omong kosong. Tetapi omongan yang belum penuh, karena kurang lengkap dan berkelamin sangka.
Mana yang benar? Laki-laki tidak sama dengan perempuan, itu kebenaran mutlak pertama. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya dalam raga, tetapi juga jiwa, dan bahkan otaknya. Ini kebenaran mutlak kedua. Apa laki-laki lebih unggul dari perempuan? Ya dan tidak. Ya, kalau ukurannya otot dan tulang. Tidak, kalau yang dibandingkan adalah ketelitian, keterampilan, dan kepekaan. Apa ini berarti perempuan lebih unggul dari laki-laki? Tergantung. Kalau soal melamun atau mengkhayal, konon laki-laki lebih jago dari perempuan. Itulah hasil penelitian yang berorientasi jender. Namun, penelitian itu tidak relevan. Pertama, karena baik untuk laki-laki ataupun untuk perempuan berlaku diktum universal: lain kepala lain adat. Kedua, beda-beda interkelamin lebih besar dari antarkelamin. Lagipula bukan itu inti soalnya. Jika orang bicara tentang peran perempuan, yang lebih penting fungsi dan kerjanya, bukan hanya potensinya.
Maka ketika orang mulai berbantah soal ini, sebaiknya diredam dengan statistik saja. Karena statistik bisa menyajikan keadaan apa adanya. Bahkan bisa juga mengikuti dinamika perkembangan hampir segala hal. Nilai dan norma yang tersimpan dalam kaedah sosial budaya serta pengaruh faktor medis dan biologis sudah memancar resultannya dalam angka-angka yang “berbicara” itu.
Ambillah perkara angkatan kerja perempuan di Indonesia. Konon motivasi perempuan memasuki angkatan kerja berbeda antara orang miskin dan orang kaya. Bagi si miskin bekerja lebih sebagai upaya mencari nafkah, memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Bagi mereka yang berada, bekerja adalah sarana aktualisasi diri. Tetapi bukankah argumen itu juga berlaku bagi laki-laki? Kita percayakan saja soal itu pada ahli ilmu sosial dan kemanusiaan. Tetapi statistiknya bagaimana?
Tidak seperti pengamat peran perempuan. Segala statistik diungkapkan dan berbagai rasio dibandingkan. Bahkan dari keterangan sederet angka itu lalu ditarik kesimpulan. Beberapa jitu, banyak yang kebetulan, tetapi kalau tidak hati-hati banyak yang menyesatkan. Misalnya soal peran serta perempuan dalam angkatan kerja. Statistik bilang, Cuma separuh dari angka peran serta laki-laki dalam angkatan kerja. Kesimpulannya: perlu ditingkatkan. Maka, tidak heran ada yang bertanya, “jika peran serta angkatan kerja perempuan sama dengan lak-laki, siapa yang menyusui anaknya, menimang buah hatinya, dan membentuk suasana rumah tangganya?”
Bagaimana dengan soal kawin cerai? Jika statistik menunjukkan di antara perempuan setengah baya Indonesia rata-rata pernah kawin satu setengah kali, apa yang akan kita katakan? Atau seperempat dari pasangan kawin bercerai setelah menikah selama lima tahun atau kurang? Bahkan sepertiga dari pasangan itu cerai setelah menikah sepuluh tahun atau kurang? Kesimpulan yang lazim, biarpun tidak selau benar, ialah bahwa perempuan menjadi korban rayuan gombal laki-laki. Logikanya, bukankah dalam kejadian perceraian berlaku hukum simetri. Laki-laki juga bisa menjadi korban rayuan perempuan? Soal ini begitu peka, begitu penuh prasangka, begitu sarat asumsi. Sehingga, kesimpulan terpaksa terkungkung oleh stereotype.
Di hamparan sawah yang basah dan tanah yang lembut, ada jutaan perempuan membungkuk-bungkuk menancapkan bibit padi atau menuai bulir padi atau menyadap getah karet, menanam kelapa sawit, bahkan menyiang rumput, menyulang jala, atau menguras tambak dan kolam. Lihatlah di pabrik tekstil, industri obat-obatan dan makanan atau industri kerajinan. Sesekali tengoklah sektor perdagangan besar, grosir, dan eceran. Lalu lihat juga ke sektor bangunan, angkutan, bahkan keuangan dan jasa-jasa. Semuanya banyak melibatkan perempuan.
Kenapa kurang banyak orang yang peduli soal ini? Kenapa orang lebih peduli pada perempuan di jabatan negara, daripada perempuan menentukan kendali rumah tangga. Dengarlah apa kata John Keneth Galbraith, ekonom Amerika itu. Menurutnya, peran serta perempuan dalam pembangunan ekonomi adalah karena kemampuan mereka merangsang dan menghidupi produksi. Perempuanlah yang berkemampuan hampir tak terbatas memborong dan memakai segala macam barang konsumsi. Lalu ada lagi anggapan lain, yaitu perempuan dapat dan boleh bekerja di bidang apa saja yang ia suka, asal tidak boleh lupa meja makan harus selalu disiapkan untuk saya, dia, dan anak-anak pada waktunya. Itulah pendapat John Wayne.
Bicara peran perempuan di Indonesia atau di mana-mana selalu akan diliputi oleh banyak paradoks. Di satu pihak dituntut kesempatan, hak, dan tanggung jawab sama antara perempuan dan laki-laki. Di pihak lain tetap dikehendaki tanggung jawab dan peran yang khas perempuan sesuai harkat dan kodratnya. Di satu pihak perempuan yang menghendaki dan kebanyakan diharapkan tetap feminim, lembut, dan lemah gemulai. Di pihak lain, perempuan menginginkan citra yang tegas, kukuh, tegar, dan tak hendak diperlakukan semena-mena.
Jangan lupakan pula hak perempuan yang satu ini yang dituntut pemenuhannya. Yaitu hak atas kesehatan reproduksinya. Hak kesehatan reproduksi bagi perempuan menyangkut masalah yang selama ini dianggap kodrati semata. Perempuan dilahirkan untuk bisa hamil dan melahirkan, memelihara dan membesarkan anaknya. Di samping berkah dan rahmat, kehamilan dan kelahiran bayi menuntut perempuan untuk ekstra hati-hati menjaga kesehatan dirinya dan bayinya. Karena hamil dan melahirkan mengandung resiko kesehatan, bahkan kematian, kalau tidak dijaga betul-betul tatkala menghadapinya. Padahal perkara hamil bukan gara-gara perempuan sendiri saja. Mesti ada pasangan laki-laki yang turut mengambil bagian dalam menghadapi resiko ini. Sekurang-kurangnya memahami perkara pelik ini. Karena itu ada tuntutan hak kesehatan reproduksi.
Jika perempuan jujur, akal sehatnya selalu membisikkan kapan ia sudah ingin atau belum ingin hamil, bahkan kapan ia tidak ingin hamil lagi. Perempuan yang bertanggung jawab ingin beranak dalam kondisi sehat dan melahirkan bayi yang sehat. Perempuan yang bertanggung jawab ingin bisa membesarkan bayinya dalam kondisi sehat fisik, rohani, dan jasmaninya dan membesarkan bayi itu untuk mampu menatap tantangan zamannya. Kini, pengetahuan kedokteran dan perkembangan masyarakat memungkinkan semua keinginan itu diraih. Karenanya tidak ada alasan untuk tidak memenuhi tuntutan perempuan akan hak atas kesehatan reproduksinya.
Semua perkembangan di atas membawa implikasi yang sangat luas pada wajah dan bentuk keluarga masa depan. Sebab kalau semua itu terpenuhi, keluarga-keluarga akan sedikit saja anaknya. Jarak kelahiran makin jarang demi kesehatan ibunya. Umur menikah makin meningkat karena pendidikan. Suami dan istri, keduanya bekerja, sehingga sedikit waktu untuk bisa momong anak gaya zaman dahulu. Bahkan, kalau pendidikan tinggi, tuntutan karir tak jarang memisahkan tempat tinggal fisik antara suami dan istri, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Mobilitas sosial akan berjalan dinamis. Laki-laki dan perempuan secara independen menempuh jalur perjalanan kemasyarakatan yang setara tetapi bisa juga tidak searah ke mana perginya.
Jangan sampai peran ibu yang mulia itu luntur karena tuntutan zaman yang kita buat sendiri. Mulai hari ini kita harus merelokasi peran ibu dalam keluarga. Semoga saja—minimal—setiap tanggal 22 Desember ini kita akan selalu dapat mengingat kepada “ibu” kita semua.
Ditulis dalam Sok Serius
Merajut Keindonesiaan melalui Iptek dan Sejarah
Suatu peradaban baru yang sedang tumbuh dalam kehidupan saat ini telah membawa gaya baru kehidupan keluarga, mengubah cara kerja, cara hidup, membawa tatanan ekonomi baru, dan juga mengubah kesadaran manusia. Serpihan peradaban itu telah ada sekarang ini ,dan orang-orang yang takut terhadap masa depan itu terlibat dalam suatu pelarian ke masa lalu dan mencoba memulihkan kembali dunia mereka yang sekarat, dunia yang melahirkan mereka (Toffler, 1990: 23).
Sejak mulai dibangun, Indonesia sudah didesain sebagai bangsa yang modern. Namun, di usianya yang lebih dari 62 tahun, Indonesia belum juga sampai ke “gerbang” cita-cita bangsanya.
Perumus Undang-undang Dasar dan orang-orang yang menjalankan kabinet adalah para pakar. Ini bukti Indonesia didesain menjadi bangsa modern.
Dalam perjalanan, semangat menjadi bangsa modern itu kemudian berangsur-angsur berkurang. Indonesia harus menyadari bahwa posisinya di mata dunia kini sudah jauh dari “rekan-rekan” seangkatannya dari dunia ketiga. Korea Selatan, Malaysia, Singapura, atau Taiwan sudah berada di jalur jalan tol dan melesat dengan kecepatan tinggi dalam pembangunan. Sementara itu, Indonesia masih tertatih-tatih melaju di jalan yang belum diaspal.
Akankah Indonesia menjadi seperti apa yang diungkapkan Toffler di atas? Jika kita perhatikan, betapa mengerikan pemikiran Toffler yang kita kenal sebagai global culture tersebut. Namun, bukan berarti pengaruh globalisasi selalu menyeret manusia ke arah negatif. Pertukaran dan kontak kebudayaan antara budaya global modernitas dan budaya lokal secara timbal balik menjadi sangat intensif dan mendalam, sehingga menurut pandangan postmodern disebut “glokalisasi” (globalisasi dan lokalisasi) budaya, yang di dalamnya unsur budaya global dan lokal bertukar dan bercampur menjadi satu.
Berdasarkan pemikiran tersebut, terdapat dua sisi pengaruh timbal balik antara budaya global dan budaya lokal, yaitu satu sisi kuatnya identitas budaya lokal, sehingga budaya global tidak sampai menghilangkan identitas budaya lokal, namun di sisi lain budaya global juga menyerap unsur budaya lokal sehingga mampu beradaptasi dalam suasana multikultural yang berjalan beriringan.
Pengembangan Iptek
Hidup dengan cerdas. Itulah yang dibutuhkan Indonesia saat ini. Namun, sampai sejauh mana iptek akan dijadikan “lentera” menuju Indonesia yang dicita-citakan? Sementara ini, jawabannya adalah kebijakan pemerintah masih belum tegas memihak pentingnya iptek.
Iptek merupakan solusi menuju kemandirian dan kesejahteraan bangsa. Solusi ini sudah lama diterapkan negara maju seperti Jepang, Jerman, dan sebagainya.
Faktor Sejarah sebagai Memori Kolektif
Yang tidak boleh dilupakan adalah faktor sejarah. Masalah yang dihadapi dalam konteks persatuan bangsa dan negara kesatuan belakangan ini adalah bagaimana mengapresiasi keragaman sebagai suatu keniscayaan bagi Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Kuntowijoyo pernah mengatakan, maraknya konflik sosial dan ancaman disintegrasi bangsa belakangan ini disumbang oleh kegagalan pembelajaran sejarah di sekolah. Tekanan materi yang diberikan pada konflik antarkelompok dan golongan masyarakat serta perang antarkerajaan rupanya menjadi warisan ingatan kolektif “dendam sejarah”.
Kemudian, dalam konteks komunal dan regional, sumber historis berasal dari cara hidup dalam arti kebiasaan dan cara berpikir sejarah yang dianut secara fanatik. Bahkan, dalam konteks antarnegara, interpretasi masa lalu dan pengalaman buruk dapat menjadi sumber yang dapat memperbesar sejarah konflik.
Politik Kebudayaan
Menurut Mukti Ali, politik kebudayaan bertujuan memupuk dan memperkuat nilai-nilai kehidupan demokratis. Politik kebudayaan hendaknya mempertinggi kepekaan manusia Indonesia akan keanekaragaman masyarakat dan kebudayaan Indonesia yang juga memerlukan toleransi politik terhadap pandangan politik yang berlainan.
Dengan demikian, hendaknya tidak ada etnis, kelompok, dan golongan yang merasa lebih berkuasa atau lebih memiliki kebenaran daripada yang lain. Antonio Gramsci menyebut istilah hegemoni sebagai suatu “blok historis” dari faksi kelas penguasa yang menerapkan “otoritas sosial” dan “kepemimpinan” terhadap kelas-kelas subordinat dengan cara merebut persetujuan. Dalam hegemoni terjadi proses-proses penciptaan makna yang digunakan untuk melahirkan dan mempertahankan representasi dan praktik-praktik yang dominan atau otoritatif.
Alat-alat yang digunakan untuk melakukan hegemoni melalui politik kebudayaan bagi kelas penguasa tidak hanya dengan kekerasan, tetapi juga melalui berbagai ungkapan, kekuasaan intelektual, seni, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Demikian juga alat-alat resistensi bagi kaum terhegemoni juga melalui ungkapan tradisional, cerita perlawanan, puisi, kesenian, permainan, dan sebagainya. Sebagai reaksi terhadap hilangnya nilai, ruang, dan tempat-tempat kelas pekerja tradisional, berbagai subkultur orang muda berusaha mencipta ulang lewat pengayaan komunitas dan nilai-nilai kelas pekerja yang hilang
Dalam politik kebudayaan menurut konsep hegemoni, terdapat dua hal yang patut dipahami, yaitu kelompok yang memiliki kekuatan atau otoritas “penguasa”, yang mengklaim kebenaran dan menentukan kebenaran sekaligus mengklaim budaya imperium, dan kelompok yang dikuasai atau subordinat sebagai budaya yang terhegemoni. Meskipun konflik tidak muncul ke permukaan yang disebabkan oleh kondisi politik makro, sesungguhnya kedua kelompok itu saling “bertempur” dalam putaran perubahan budaya.
Salah satu jalan untuk melawan kekuatan eksternal dan mempertebal rasa solidaritas melalui politik identitas adalah menciptakan counter discourse atau wacana tandingan. Sesungguhnya hal itu adalah bagian dari wacana poskolonialisme, yaitu munculnya cerita-cerita perlawanan sebagai akibat hegemoni kekuasaan waktu lampau yang tidak mungkin dilakukan dengan perlawanan fisik.
Faktor disintegratif
Kehidupan politik bangsa Indonesia saat ini yang sarat dengan suasana disintegrasi, seolah tidak bercermin kepada semangat persatuan yang dicetuskan founding fathers 77 tahun yang lalu. Semangat persatuan yang dianggap melebihi zamannya itu biasa dihubungkan dengan masa awal perintisan pergerakan nasional lebih kurang 20 tahun sebelumnya ketika Boedi Oetomo, organisasi pelajar dengan para pelajar STOVIA sebagai intinya (pada awal permulaannya) didirikan.
Semangat ini seolah hilang pada diri para pelaksana pemerintahan di Indonesia pada segala tingkat. Entah mengapa, namun kita tahu bahwa situasi disintegrasi saat ini lebih menonjol. Bukankah kita seharusnya khawatir? Kita seharusnya berkaca pada pengalaman masa lalu. Memori kolektif kita rupanya tidak mengajarkan kita atau mungkin kita terlalu malas untuk belajar dari peristiwa-peristiwa yang bisa membawa kita selangkah lebih arif. Suasana disintegrasi nasional sudah semakin mengkhawatirkan (kalau tidak bisa disebut mengenaskan).
Dimulai dari kehilangan Timor-Timur—propinsi termuda yang diperjuangkan di forum internasional, namun akhirnya harus terpisah dari Indonesia—kemudian situasi di Papua pun tidak lebih baik dari hari ke hari. Walaupun otonomi khusus sudah diberikan dan pemekaran propinsi sudah dilakukan, namun suara-suara yang menuntut pemisahan masih tetap ada dan bahkan tidak menunjukkan grafik yang menurun.
Konflik bernuansa SARA, khususnya agama, seperti yang terjadi di Maluku dan Poso masih mempunyai potensi yang hebat untuk mengarah kepada situasi disintegrasi. Konflik Maluku yang ditengarai ditunggangi oleh RMS memang bukanlah barang baru, namun potensinya untuk meledak tetap besar mengingat pemerintah belum berhasil menumpas gerakan ini sampai ke akarnya.
Jika ditelusuri ke belakang, sebenarnya Indonesia sudah kenyang makan pengalaman menghadapi situasi-situasi tersebut. Sebagai contoh, setelah Pemilu pertama di Indonesia (29 September 1955 untuk Parlemen dan 15 Desember 1955 untuk Konstituante), krisis-krisis dalam negeri mulai menemukan puncaknya. Gerakan-gerakan separatis bermunculan. Dengan dalih pembangunan daerah, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah mengadakan perdagangan barter. Gerakan-gerakan daerah ini mendapat simpati dari Partai Masyumi, PSI, dan lain-lain. Kemudian setelah Presiden Sukarno mengajukan konsep Demokrasi Terpimpin, timbul reaksi-reaksi dengan didirikannya Dewan Banteng di Sumatra Tengah, Dewan Gajah di Sumatra Utara, Dewan Garuda di Sumatra Selatan, Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan, dan Dewan Manguni di Sulawesi Utara.
Daftar di atas dapat ditambah dengan gerakan-gerakan separatis lainnya dan juga gangguan-gangguan keamanan dalam negeri, seperti Pemberontakan APRA, Pemberontakan Andi Aziz, Pemberontakan RMS, dan sebagainya.
Merajut Keindonesiaan-Merekat Bangsa
Sejarah tidak dapat dilihat hanya dari satu sisi saja atau diinterpretasi secara tunggal. Sejarah itu untuk suatu kepentingan, tetapi bukan untuk pembenaran atau legitimasi rezim siapa atau kelompok mana, melainkan untuk bangsa Indonesia.
Sejak awal pun, pendiri Indonesia sudah menghayati negeri ini. Indonesia adalah bangsa besar dengan jumlah penduduk yang besar dan sumber daya alam yang terbatas dan akan habis. Itu sebabnya mengelola negeri ini dengan ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya sejarah, adalah solusi. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang melarikan diri ke masa lalu karena kita takut menghadapi masa depan, seperti yang dikatakan Toffler. Lalu kapankah Indonesia akan sungguh-sungguh memegang “lentera” menuju gerbang bangsanya?
Ditulis dalam Sok Serius
Pedang, Tajam…
Kata orang kata-kata itu lebih tajam daripada pedang, bisa melukai orang tanpa harus menghunusnya terlebih dahulu. Hmmm…itu perlu dibuktikan, bung!!!
Pagi ini (Selasa, 18 Desember 2007, jam 1 lebih) saya udah ngebuktikan ketajaman itu. Lewat lidah yang tidak terkontrol atau lewat tulisan sama saja. Kata-kata saya melukai perasaan seseorang. Ya, saya udah bersikap sok tau terhadap sesuatu hal kepada seseorang. Tidak ada maksud saya untuk melukai perasaannya, tapi ternyata saya salah. Ucapan saya memang sok tau dan saya bersalah telah menggurui, menceramahi, dan berkata tidak bijak (walaupun saya memang jelas-jelas bukan orang bijak).
Betapa bodohnya saya ini, kenapa saya bisa berkata seperti itu? Apa saya orang yang suci sehingga bisa menggurui orang lain? Apa karena saya lebih tua sehingga saya bisa menceramahi orang lain? Apa karena saya berpendidikan lebih tinggi sehingga bisa mendikte orang lain? (walaupun jelas pendidikan nggak bisa dihitung secara matematis).
Kamu memang bodoh, Yanwar. Apa kamu nggak punya perasaan? Jangan sekali-kali lagi diulangi perbuatan itu. Jangan sampe kata-katamu melebihi tajamnya pedang yang hanya bisa melukai perasaan orang lain. Ya…ya…ya…saya tahu itu. Mungkin saya memang terlalu kuno. Pandangan saya mungkin terlalu naif. Saya sangat menyesal…
Moga saya bisa tidur nyenyak pagi ini dan melupakannya . Maafkan saya…
Ditulis dalam Berbagi
